Kisah Kelicikan PKI Yang Gagal Menyerang Ponpes Tegalrejo Dan Menculik Kiai
Jakarta - Teriakan ratusan pasukan Front Demokrasi Rakyat Partai Komunis Indonesia
(FDR/PKI) memecah keheningan di Pondok Pesantren Tegalrejo, Magetan.
Pesantren tersebut tidak luput dari sasaran pemberontakan PKI di tahun
1948.
"Pondok bobrok, santri mati, langgar bubar"teriak mereka yang berusaha melumpuhkan kekuatan pesantren. Tidak hanya berteriak, mereka juga mengacungkan senapan, pedang dan
senjata lainnya. Orang-orang FDR/PKI mengepung dan menyerang Pesantren
Tegalrejo. Namun upaya mereka sia-sia.
Pesantren Tegalrejo merupakan pesantren tertua di Kabupaten Magetan,
yang dirintis oleh sisa-sisa pengikut Pangeran Diponegoro yang enggan
tunduk pada Belanda, yakni KH Abdurrahman. KH Abdurrahman juga adalah master sekaligus penasihat Pangeran Diponegoro dalam hal Thariqat Sathariyah.
Tegalrejo sendiri pada tahun 1948 hanyalah sebuah pedukuhan kecil seluas
10 hektare dan letaknya 10 kilometer di selatan Takeran. Tanah di sekitar Tegalrejo adalah tanah yang gersang, tanah babadan yang
awalnya merupakan hutan. Sekalipun hanya merupakan pesantren kecil dan
kuno, Pesantren Tegalrejo dikenal sebagai tempat orang-orang berilmu,
khususnya dalam ilmu kebatinan.
KH Abdurrahman dilahirkan di Pacitan sekitar abad 17 akhir.
Buyut-buyutnya adalah Ki Ageng Rendeng dari Kincang Kecamatan Maospati
Magetan. Sebelumnya menjadi pengasuh pesantren, KH Abdurrahman sempat
menjadi punggawa Kraton Mataram Surakarta, karena pamannya Kanjeng Jimat
adalah orang penting di masa itu.
Menjadi pejabat penting di Kraton Surakarta, membuat KH Abdurrahman
jenuh. Kemudian pemilik nama asli Bagus Bancalana memutuskan bertapa
atau uzlah di Gunung Lawu. Tempat pertapaan itulah yang akhirnya
dijadikan tempat semedi para penguasa negeri ini.
"Dan akhirnya setelah bertapa, mendapat petunjuk untuk melakukan dakwah
di Tegalrejo Semen Nguntoronadi Magetan seperti yang tertulis di gapuro
awal abad 18,"kata KH Mohammad Ridlo, Lc, Pengasuh Ponpes Tegalrejo
Magetan pada kami.
KH Mohammad Ridlo, Lc merupakan generasi ke-6 dari KH Abdurrahman alias Nur Bashori/Bagus Bancalana. "Orang zaman dahulu hal yang biasa apalagi tokoh-tokoh penting,
mengubah-ubah nama untuk menghindari musuh," tambah Gus Ridlo, panggilan
akrab KH Mohammad Ridlo, Lc.
Ditemui Gus Ridlo di pendopo bersejarah di mana FDR/PKI pernah menyerang
namun gagal. Aura wingitnya pendapa terasa masih menempel di dinding
rumah yang berbentuk joglo itu.
Kemudian Gus Ridlo menceritakan kisah kelabu pada hari Sabtu Wage, 18
September 1948. Pesantren Tegalrejo secara diam-diam sudah dikepung
FDR/PKI. "Tegalrejo memang menjadi incaran dari PKI sejak lama,"kata
Gus Ridlo memulai kisah.
Menurut Gus Ridlo dari keterangan pendahulunya, saat PKI mengepung
Pondok Tegalrejo mereka menyerang dengan persenjataan lengkap.
"PKI memberondong peluru ke Ndalem (rumah induk) dan Masjid Tegalrejo.
Tidak ada yang mempan alias tidak berfungsi. Dan senjata-senjata bisa
berfungsi ketika ditembakkan ke arah lain. Tegalrejo dikepung dan
diserang tiga kali. Bahkan bekas lemparan senjata itu di antarannya 68
granat tangan yang tidak berfungsi,"ungkapnya.
Saat penyerangan terjadi, Kiai Imam Bakin Pengasuh Ponpes Tegalrejo
jutru mengajak santri dan jemaah melakukan mujahadah. "Panglima
perangnya Ponpes Tegalrejo saat itu adalah KH Imam Muljo dan Kiainya
Kiai Imam Bakin. Atas izin Allah, apa yang dilakukan oleh PKI melakukan
penyerangan di Tegalrejo gagal total amount,"tambah Gus Ridlo.
Masih menurut Gus Ridlo meski diserang, namun KH Imam Muljo sebagai
panglima di Ponpes Tegalrejo selalu melarang warga Tegalrejo untuk
menyakiti musuh yakni PKI. "Waktu itu orang-orang PKI hanya dibentak saja sudah lari.
Anehnya, mereka benar-benar lari tunggang langgang. Saat itu pakaian yang digunakan adalah hitam-hitam dengan ikat kepala warna merah,"ujar Gus Ridlo yang masih terheranheran dengan kejadian tersebut. KH Imam Muljo yang sudah tua itu setiap melihat PKI datang selalu memekikkan takbir"Allahu Akbar ".
Dan bersamaan dengan pekikan takbir itu ratusan
orang FDR/PKI langsung roboh dan saling tubruk di antara mereka sendiri.
KH Imam Muljo juga melarang santri dan keluarga Ponpes Tegalrejo keluar
rumah atau majid. Namun rupannya ada seorang santri bemama Bedjo
melanggar larangan
KH Imam Muljo. Ketika itu keluar dari pagar pesantren untuk menyerang
orang-orang FDR/PKI. Akhirnya kaki Bedjo terkena tembak. Usai kejadian
itu, pasukan FDR/PKI tak lagi berani melakukan penyerangan.
Sementara itu, warga pesantren yang melihat granat-granat berserakan segera dikumpulkan. Mpu Teguh Guno Anom, cicit dari Mpu Guno Sasmito yang memiliki garis keturunan ke Mpu Supondriyo, Mpu Kerajaan Majapahit yang juga turut bersama merdeka.com bertemu Gus Ridlo, mengungkapkan bahwa di Ponpes Tegalrejo memiliki pusaka ampuh yang diberi nama Kanjeng Kiai Sapujagad.
"Pusakannya berupa tombak, adalah yasan/karya dari Mpu Guno Sasmito. Tombak itu kalau diibaratkan secara kasat mata wujudnya seperti api sebesar gerobak dan landeyan (tempat tombaknya )sebesar pohon kelapa,"jelas Mpu Teguh Guno Anom kepada kami.
Setelah gagal menyerang Pesantren Tegalrejo, FDR/PKI hanya berani mengepung. Waktu itu orang-orang FDR/PKI hanya terlihat berkeliaran di sekitar pesantren tanpa ada yang berani bicara. Kegagalan penyerangan terhadap Ponpes Tegalrejo membuat PKI memutar otak. Salah satunya yakni membuat trik licik yang mereka sebut gencatan senjata untuk membuat perjanjian.
"Karena gagal, akhirnya PKI membuat kelicikan lain. Yakni mengajak Kiai Imam Bakin melakukan kompromi perjanjian gencatan senjata. Tempat yang ditunjuk adalah rumah H Sabir yang sudah dikosongkan karena penghuninya sudah mengungsi di Dusun Baeng Desa Kiringan, Kecamatan Takeran.
Gencatan senjata itu disetujui Kiai Imam Bakin Bakin. Karena takut ada apa-apa, Kiai Bakin akhirnya diikuti oleh beberapa orang pentingnya, "jelas Gus Ridlo. Undangan gencatan senjata ini sempat ditentang oleh KH Imam Muljo sebagai Panglima Ponpes Tegalreo.
Akhirnya Kiai Imam Bakin, Kiai Sjamsuddin, Dawud, Djamal, Rukaini, Djalal, Sihabuddin, Kusno, Kalidjo, Djajus, Ngabdan, Pardi, Djurip, Imam Redjo, Kadis, serta Khodim ditahan oleh FDR/PKI."Kiai Bakin dan pendereknya sesampai di rumah H Sabir bukan diajak membuat perjanjian, tapi malah ditahan.
Setelah ditahan, akhirnya PKI membuat kelicikan lain, yakni mengundang tokoh-tokoh penting Tegalrejo untuk hadir di Baeng yang seakan-akan atas undangan Kiai Imam Bakin. Sampai di Baeng tokoh-tokoh penting Tegalrejo ini akhirnya ikut ditahan.
Meski ditahan namun mereka tidak ada yang dibunuh dan diperlakukan layaknya tahanan, sebab orang-orang Tegalrejo sangat sakti-sakti,"imbuh Gus Ridlo. Sepekan lebih orang-orang Pesantren Tegalrejo ditawan di rumah H Sabir. Namun demikian, orang FDR/PKI tidak berani mengikat dan berbuat kasar terhadap para tawanan.
Rupanya pihak FDR/PKI masih memperhitungkan kemungkinan para tawanan itu akan melawan apabila diperlakukan kasar. "Setelah sepekan lebih, Khodim mengungkapkan, ada seorang kurir FDR/PKI yang membawa berita bahwa' Belanda pakai blangkon'( maksudnya tentara Siliwangi)telah menyerang Gorang Gareng.
Kurir itu mengatakan bahwa para tawanan sebaiknya dibereskan, sebelum Belanda pakai blangkon datang. Rupanya, para anggota FDR/PKI yang menjaga tawanan itu salah mengartikan sandi-sandi yang disampaikan oleh kurir. Dari tulisan dibereskan berubah menjadi dibebaskan,"tutur Gus Ridlo.
Dengan demikian para tawanan benar-benar dibebaskan dan boleh pulang. Gus Ridlo mengungkapkan, yang dimaksud dengan' dibereskan'itu sebenarnya dibunuh. Apalagi di dekat rumah H Sabir PKI saat itu juga sudah menyiapkan lubang pembantaian.
Dan karena keliru mengartikan sandi-sandi tersebut, Kurir FDR/PKI itu pun dibunuh sendiri sebagai tebusan. Hingga akhirnya pemerintah berhasil menumpas FDR/PKI, tidak satu pun warga Pesantren Tegalrejo menjadi korban keganasan FDR/PKI, kecuali Kiai Nurun yang ditangkap pada saat bersama Kiai Imam Mursjid Muttaqin di Takeran.
Kiai Nurun, tokoh dari Pesantren Tegalrejo yang dibunuh oleh FDR/PKI dibuang ke lubang pembantaian Batokan, ketika akan memberi latihan ilmu kanuragan kepada santri-santri di Pesantren Burikan.
Suatu kisah di Batokan menyebutkan, selama beberapa hari setelah Kiai Nurun ditanam, orang melihat tanah di bekas lubang tersebut masih bergerak gerak, tetapi tidak ada orang yang berani menolong karena takut pada FDR/PKI.
Komentar
Posting Komentar