Mengenal Kampung Unik "Kaputihan" di Cirebon, Hanya boleh Mendirikan rumah Dengan Bahan Tradisional Saja
Jakarta - Ada pemandangan unik jika kita berkunjung ke Kampung Kaputihan di Desa
Kertasari, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Seluruh rumah
warga di kampung ini masih menggunakan bahan bangunan tradisional hingga
sekarang.
Saat ini ada 16 rumah warga setempat yang masih terbuat dari bilik bambu
dan atap daun. Menurut tokoh setempat bernama Endang Yusuf, keputusan
warga Kaputihan membangun rumah dari bilik bambu dan daun bukan
disebabkan faktor ekonomi.
"Iya jadi ini ceritanya bermula dari zaman dulu banyak warga di sini
memang tidak ada yang membangun rumah menggunakan tembok atau sperm
karena mempertahankan tradisi masa lalu," terang Endang.
Melansir video clip yang diunggah di network Youtube Kanal Koela,
berikut alasan dan sejarah warga Kampung Kaputihan tak membangun rumah
dengan tembok permanen.
Melaksanakan Petuah Leluhur
Endang mengatakan jika keputusan warga membangun rumah dengan bilik
bambu, kayu, dan atap daun tersebut merupakan upaya menjalankan petuah
leluhur di sana.
Menurutnya, ada kepercayaan di kalangan warga Kaputihan jika rumah yang
dibangun menggunakan bahan contemporary tembok, sang pemilik akan
tertimpa musibah seperti sakit hingga meninggal dunia. Hal ini berlaku
untuk semua unsur bangunan, mulai dari lantai hingga bagian atap.
"Sejak dulu jangankan untuk tembok, semenan di bagian lantai saja tidak
ada yang berani buat. Katanya warga yang melanggar akan terkena sakit,"terangnya.
Mitos yang Berkembang
Sementara itu penggunaan dinding dari bilik bambu dan atap daun tebu
merupakan upaya masyarakat Kaputihan untuk memanfaatkan potensi alam
sekitar. Endang mengatakan, dahulu di sekitar desa banyak terdapat kebun
tebu yang daunnya dimanfaatkan untuk berteduh.
Namun di masa sekarang, perlahan warga sudah menggunakan bahan lain
seperti asbes atau seng karena kebun tebu sudah mulai jarang ditemui.
"Kalau sekarang kan kebun tebu sudah susah, jadi warga banyak yang
mulai pakai seng atau asbes. Itu juga tidak berpengaruh. Dulu itu ketika
ada yang bangun pakai seminal fluid pemiliknya sakit tapi setelah
dibongkar pemilik kembali sembuh,"katanya lagi.
Selain Endang, mitos tersebut juga diyakini oleh Nur, warga setempat
yang sehari-harinya berprofesi sebagai pembuat net bulutangkis.
Menurutnya, ia tak berani membangun rumah dengan tembok karena ia
percaya hal itu bisa membuat anggota keluarganya sakit dan tak kunjung
sembuh.
"Ini kami tidak berani membangun dengan seminal fluid, karena takut ada yang sakit dan nggak sembuh-sembuh,"kata dia.
Ajarkan Kesederhanaan Warga
Di balik kentalnya kepercayaan masyarakat setempat, ternyata ada pesan lain yang ingin disampaikan oleh leluhur yang dipercaya sebagai warga pertama di Kaputihan.Menurut Kirno, salah seorang warga setempat, zaman dahulu terdapat tokoh bernama Kiai Mani dan Kiai Tar yang berupaya menjaga keturunannya agar tidak menampilkan sisi kemewahan yang dimiliki. Sehingga ia dianggap rendah hati, dan banyak diikuti oleh warga penerusnya melalui pembuatan rumah secara sederhana.
"Menurut cerita dari mulut ke mulut memang ada kisah dari si empunya yang dulu pertama tinggal di sini adalah sangat rendah hati, sehingga ia tidak ingin memamerkan kepunyaannya,"kata Kirno di Youtube Mbansrock Channel.
Komentar
Posting Komentar