Sejarah Bongkrek, Tempe Khas Banyumas Yang Memicu Keracunan Massal Pada Jaman Belanda
Jakarta - Saat depresi ekonomi melanda pada tahun 1931 hingga 1937, banyak
kalangan masyarakat di Hindia Belanda yang tak bisa makan. Hal ini
membuat mereka memutar otak untuk membuat makanan alternatif, salah
satunya tempe bongkrek.
Dikatakan dalam novelAhmad Tohari berjudul Ronggeng Dukuh Paruk, tahun
1982. Tempe bongkrek menjadi nama yang tak asing sebagai makanan khas di
wilayah karesidenan Banyumas, Jawa Tengah.
Saat itu banyak warga di sana yang mengatasi krisis dengan memproduksi
makanan tersebut. Namun saat itu perajin tempe bongkrek hanya membuat
dengan cara seadanya, hingga menimbulkan keracunan dan kematian massal.
" Per tahun, tempe bongkrek beracun menyebabkan 10-- 12 orang meninggal.
Hanya sedikit yang selamat," tulis William Shurtleff dan Akiki Aoyagi
dalam Background of Tempeh, a Fermented Soyfood From Indonesiamengutip
Youtube Amemoar, Sabtu (17/7).
Kematian Diduga Oleh Bakteri Hasil Fermentasi Tempe Bongkrek.
Sejak ramainya kasus kematian akibat tempe bongkrek, banyak kalangan
peneliti di Hindia Belanda yang tertarik mendalami kandungan tempe
berwarna putih kehitaman tersebut, seperti W.K. Mertens dan A.G. van
Veen dari Eijkman Institute di Batavia.
Di tahun 1930, keduanya berupaya mengungkap penyebab kematian usai dua
puluh jam mengkonsumsi tempe yang terbuat dari bungkil kelapa itu.
Akhirnya, mereka menemukan dua unsur yang diduga menjadi pemicu
keracunan sampai meninggal yakni Pseudomonas cocovenenans (bakteri
penghasil asam bongkrek) dan toksoflavin.
" Permulaan penyakit terjadi dalam beberapa jam setelah konsumsi makanan
yang terkontaminasi dan kematian dapat terjadi hanya dalam waktu 20
jam," ungkap J. David Owens dalam Indigenous Fermented Foods of
Southeast Asia.
Sebabkan 7000 Orang Keracunan Massal.
Berdasarkan catatan sejarah, keracunan massal warga tercatat mengalami
peningkatan sejak pertama kali tempe bongkrek diproduksi pada 1895. Di
tahun berikutnya, tempe tersebut word play here dijadikan makanan
favorit mengingat cita rasanya yang enak dan murah hingga era 1930 an.
Sejak tingginya permintaan itu, kemudian warga Banyumas mulai banyak
memproduksi tempe tersebut dengan minim pengetahuan. Tempe bongkrek pun
langsung menjadi makanan pokok, hingga kasus keracunan meningkat
setidaknya sampai tahun 1951 hingga 1975 sebanyak 7.200 orang.
Dalam "Bongkrek food poisoning in Java" karya Arbianto Purwo, disebutkan
rekor kematian tertinggi terjadi di tahun tersebut di mana kasus
kematian mencapai 850 orang.
Usai terjadi peningkatan korban, pada tahun 1977 keracunan tempe
bongkrek dilaporkan menurun menjadi 400 kasus, dengan 70 warga
dilaporkan meninggal dunia.
Berdasarkan catatan sejarah, keracunan massal warga tercatat mengalami
peningkatan sejak pertama kali tempe bongkrek diproduksi tahun 1895
hingga dijadikan makanan favorit bercita rasa enak sampai age 1930 an.
Sejak itu mulai banyak warga di wilayah Banyumas yang memproduksi
bongkrek dengan minim pengetahuan, hingga kasus keracunan kian meningkat
setidaknya sampai tahun 1951 hingga 1975 tercatat sebanyak 7.200 orang.
Dalam "Bongkrek gastrointestinal disorder in Java" karya Arbianto Purwo,
disebutkan rekor kematian tertinggi terjadi di tahun tersebut di mana
kasus kematian mencapai 850 orang.
Usai terjadi peningkatan korban, di 1977 keracunan tempe bongkrek
dilaporkan menurun menjadi 400 kasus, dengan 70 warga dilaporkan
meninggal dunia.
Favorit Warga Banyumas hingga Sekarang.
Melansir laman youtube Trans7 Authorities, tempe bongkrek sejak dulu
sampai sekarang masih menjadi primadona bagi sebagai warga di Banyumas,
terlebih Cilacap, Jawa Tengah.
Harga tempe bongkrek yang terbilang murah, dengan cita rasa gurih
membuatnya kerap diburu hingga dijadikan masakan khas di sana. Biasanya
warga Cilacap mengolahnya dengan cara ditumis, bersama petai hingga
udang.
Kendati demikian, jika dibuat dan diolah dengan cara baik maka tempe
tersebut tidak berbahaya bagi tubuh dan bisa meningkatkan nilai gizi
usai dicampur beberapa bahan.
Komentar
Posting Komentar