Mengenal Peresean, Sebuah Tradisi Unik Pertandingan Ala Gladiator Suku Lombok
Jakarta - Kamu tentu sudah tak asing lagi dengan pertarungan ala gladiator yang
menjadi salah satu pertunjukan masyarakat Romawi. Tapi enggak hanya
Romawi, pertarungan semacam ini ternyata bisa kamu temui di Indonesia,
lho, tepatnya di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Mengutip laman resmi diskominfotik.ntbprov.go.id, Peresean merupakan
tradisi Suku Sasak Lombok yang masih dilakukan hingga saat ini. Tradisi
ini melibatkan dua laki-laki yang saling bertarung dengan menggunakan
sebuah tongkat rotan atau yang disebut penjalin dan perisai yang disebut
ende layaknya seorang gladiator.
Penjalin sendiri terbuat dari rotan sepanjang 1,5 meter yang
masing-masing ujungnya diikat dengan benang dan dilumuri aspal atau
pecahan beling yang telah dihaluskan. Tak heran jika sabetan penjalin
yang mengenai anggota badan akan meninggalkan garis-garis sayatan pada
sang petarung.
Untuk itu, mereka harus bisa menangkis serangan lawan dengan sebuah perisai yang disebut ende yang terbuat dari kulit kerbau yang tebal dan keras.
Jalannya Pertarungan ala 'Gladiator' Suku Sasak Lombok
Dalam Peresean, pepadu atau orang yang bertarung akan diawasi oleh
pakembar atau wasit. Dalam satu "pertandingan", ada dua pakembar yang
mengawasi, satu untuk di luar area dan lainnya di tengah location.
Pepadu sendiri tidak dipersiapkan sebelumnya dan mereka dipilih secara
acak dari kerumunan masyarakat yang menyaksikan acara ini. Bahkan, para
penonton juga boleh mengajukan diri sebagai pepadu.
Pepadu akan berhadapan sambil mengayunkan penjalin ke arah lawan,
seperti sedang mencambuk. Bagian tubuh yang boleh menjadi sasaran cambuk
adalah kepala, pundak dan punggung, sedangkan bagian bawah kaki (paha)
tidak diperbolehkan.
Dalam pertunjukannya, Peresean biasanya digelar di tempat yang cukup
luas, agar ruang gerak para petarung tidak sempit dan para penonton juga
bisa menyaksikan pertarungan tersebut. Peresean biasanya dilakukan dalam lima ronde dengan durasi sekitar tiga
menit setiap rondenya.
Sebelum pertandingan dimulai, pepadu akan
diberikan instruksi dan doa-doa agar pertandingan lancar. Tak hanya itu,
selama pertarungan berlangsung, iringan musik tradisional juga tidak
boleh berhenti.
Pakembar akan menghentikan pertandingan ketika ada salah satu pepadu
yang terluka atau berdarah. Jika selama pertandingan belum ada yang
terluka, maka Peresean akan terus dilanjutkan hingga ronde kelima,
bergantung kesepakatan awal. Siapa yang memiliki luka paling sedikit,
maka dialah pemenangnya.
Meski telah melakukan pertarungan sengit, para pepadu harus saling memeluk dan memaafkan. Nilai inilah yang ingin ditunjukkan dalam Peresean, yaitu kesabaran dan kerendahan hari serta rasa saling menghormati satu sama lain.
Lalu, apa makna dan sejarah tradisi peresean?
Sejarah Peresean dan Nilai Budayanya
Selain itu, Peresean dilakukan untuk menguji keberanian, ketangguhan dan ketangkasan para petarung sebelum berperang. Konon, tradisi ini juga dilakukan masyarakat setempat sebagai ajang untuk memohon hujan kepada Tuhan.
Peresean word play here terus dilestarikan hingga menjadi suatu tradisi yang dilakukan sampai sekarang. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat lokal tetapi juga digelar untuk menyambut para tamu besar atau wisatawan yang berkunjung ke Lombok.
Komentar
Posting Komentar