Mengetahui Kisah Suria Kertalegawa, Seorang mantan Bupati Garut Yang Lebih Membela Belanda Daripada Indonesia
Jakarta - "Halo2 Garoet, kota aman djadi riboet."
"Halo2 Garoet, tempat orang toekang tjatoet."
"Boepati Garoet dahoeloe Soeria-NICA-legawa."
"Marilah boeng kita tangkap dia." (dikutip dari Jurnal Pendidikan Sejarah UPI, No. 7, Vol.IV Juni 2003).
Itulah sepenggal bait yang dinyanyikan oleh mantan Bupati Garut
(1929-1944), R.A.A. Moehammad Moesa Soeria Kartalegawa, atau yang biasa
dipanggil Suria Kertalegawa, juga Uca, dalam sidang parlemen Negara
Pasundan bentukannya, pada 14 Mei 1948.
Dalam rapat itu, Uca menyanyikan lagu sebagai ungkapan perasaan terkait
cap sebagai antek-antek NICA atau Netherlands Indies Civil
Administration Menurutnya, nyanyian tersebut merupakan langkah menebar
kebencian karena menolak kemerdekaan Indonesia yang masih seumur jagung
saat itu.
Mantan Bupati Garut itu memang getol menyuarakan kebenciannya terhadap
setiap aktivitas politik Republik Indonesia, bahkan ketidaksukaannya
juga ia arahkan ke Presiden Soekarno hingga memilih memisahkan diri dan
membentuk Negara Pasundan Federal.
Penyematan nama Soeria-NICA-Legawa dianggap pas oleh masyarakat,
khususnya di wilayah Kabupaten Garut. Dikarenakan kiprah politik Uca
condong 'nunut' kepada kebijakan Belanda, dan kerap berlawanan dengan
pemerintah Indonesia. Dari situ, dirinya mendirikan Partai Rakyat
Pasundan (PRP) untuk membuka jalan politiknya memisahkan diri dari
pemerintahan Soekarno.
Bahkan Uca tak ragu untuk mengaku sebagai Opsir KNIL dan melakukan
perlawanan secara terbuka kepada pihak-pihak yang mendukung Indonesia.
Hingga pada 11 Mei 1947, PRP mengadakan gerakan-gerakan teror dengan
menculik sejumlah pejabat Republik Indonesia di Bogor.
"Dahoeloe golongan Repoebliken telah membladjar anak2 disekolah oentoek
bernjanji dan njanjian itoe semata-mata ditoedjoekan kepada diri saja.
Njanjian itoe dinjanjikan dihadapan saja oleh seorang keponakan
perempoean jang beroesia 7 tahoen, tersaksi oleh seorang opsir KNIL
(Koninklijk Nederlandsch Indische Leger, sz),"sebut Suria Kertalegawa
usai menyebutkan bait yang dinyanyikan keponakannya itu.
Mendirikan Negara Pasundan
Berbagai upaya mengukuhkan partai bentukannya, salah satunya dengan
mendirikan Negara Pasundan Federalis (versi Indonesia Serikat) yang
berbeda dari Negara Pasundan versi Wiranatakusumah dari golongan
republiken.
Dalam kegiatannya, Uca didukung oleh eks Perwira KNIL, Kolonel Santoso,
penasehat politik Van Mook yang juga sebagai Gubernur Jenderal Hindia
Belanda, hingga kelompok Intel Belanda NAVIS.
Kartalegawa berusaha mewujudkan Negara Pasundan yang merdeka dari
Indonesia. Usaha ini didukung Residen Belanda di Bandung, M. Klaasseen,
yang menulis sebuah laporan, tertanggal 27 Desember 1946 bahwa PRP
dipandang sebagai suatu gerakan rakyat yang spontan dan Residen
menyambut gembira, karena di Tatar Pasundan timbul gerakan antirepublik.
Walau demikian, pemikiran Kertalegawa ini sempat bertentangan dengan Van
Mook sebagai Gubernur Jenderal karena Negara Pasundan cukup menyulitkan
rencana strategis Belanda dan menganggap Kertalegawa memiliki rekam
jejak buruk sebagai koruptor.
"Kamu bertindak seperti Hitler. Kamu telah membuat hal itu sangat
menyulitkan saya berkenaan dengan Republik. Proklamasimu tidak mempunyai
persiapan. Tanpa pembuktian bahwa orang Sunda mendukung PRP, kamu
berbuat tidak baik dengan proklamasi itu. Kamu adalah lawan Republik dan
telah membuat hal-hal sulit bagi kami,"kata Van Mook, dalam suatu
keterangannya.
Menolak Kemerdekaan dan Menganggap Soekarno Menomorduakan Orang Sunda
Uca memilih memberontak lantaran ia melihat setiap kebijakan Soekarno
dianggap kerap menomorduakan orang Sunda. Menurutnya, perkembangan
politik pemerintahan di Jawa Barat tidak pernah melibatkan orang Sunda
secara langsung.
Bisa dilihat dari penunjukan gubernur pertama, kedua, dan ketiga di Jawa
Barat, yang bukan orang Sunda seperti, Soetardjo Kartohadikoesoemo
(Jawa), Datuk Jamin (Minang), dan Dr. Murdjani. Baru kemudian Sewaka
yang orang Sunda ditunjuk sebagai Gubernur keempat di Jawa Barat.
Ia juga mempertanyakan alasan Soekarno lebih mengakui Negara Indonesia
Timur (NIT), daripada Negara Pasundan di Jawa Barat yang dianggap tak
adil.
Negara Bentukannya Tak Disetujui Keluarga Sendiri
Jika dilihat dari tujuan Kertalegawa, Van Mook merasa gagasannya memecah
posisi Republik dengan mendirikan negara-negara federal akan lancar,
melalui langkah politik Uca.
Sayangnya, Uca dianggap terburu-buru hingga Negara Pasundan tidak
berjalan maksimal. Usai berdirinya negara tersebut, Uca langsung menjadi
sasaran dari kalangan yang menolak termasuk dari kalangan keluarganya
sendiri.
Ketika ayah Uca mengetahui, ia menyuruh sang anak bersumpah di corong
radio agar tidak menikah, sebelum sang ayah mati. Bahkan sang Ibu juga
turut melampiaskan kekesalannya bahwa ia bersama anggota keluarga yang
lain tidak menyetujui pendirian negara tersebut.
"Uca, ibu tak paham kau melakukan hal demikian, ingatkah kepada ibu dan
saudara-saudaranmu? Mengapa kau memisahkan diri dari kami? Bahkan mang
Abas (mantan Bupati Cianjur) tidak suka kepada negara Pasundan,"ungkap
sang Ibu.
Komentar
Posting Komentar